Kokotu
pondok kokotu
Selasa, 02 Desember 2014
Selasa, 02 September 2014
Tahu dan Tempe
Walaupun pulau pulau di Halmahera dikelilingi oleh laut tapi belum tentu setiap hari mereka menikmati ikan segar,apalagi di musim ombak...,bagi yang mempunyai kelebihan Mie instan dan telur adalah menu sehari hari,untuk yang kekurangan maka pisang bakar atau sagu yang diolah dengan berbagai cara adalah makanan yang tidak bisa ditolak.
Dengan perahu dan mesin yang seadanya serta BBM yang sangat mahal yaitu Rp.12.000 per liter membuat warga desa di pantai Halmahera enggan untuk melaut.
Selama berminggu minggu tinggal di daerah seperti ini membuat saya berpikir bukankah mereka bisa diajarkan membuat Tahu dan Tempe,selain nilai proteinnya tinggi bahan dasarnya pun tidak mahal.
YouTube langsung menjadi guru saya untuk belajar cara pembuatan tahu dan tempe yang ternyata kelihatannya tidak begitu sulit... Insya Allah..
Saya sungguh tidak sabar untuk kembali ke desa Kokotu dan mengajarkan pada mereka cara pembuatan Tahu dan Tempe...
Senin, 01 September 2014
Minggu, 10 Agustus 2014
langkah kaki: Kokotu Sudah Setengah Merdeka
langkah kaki: Kokotu Sudah Setengah Merdeka: Akhirnya Kokotu sudah setengah Merdeka...Hore... Akhirnya Dering Telp berbunyi di Kokotu... Akhirnya Saya dan masyarakat lain tidak...
Memulai kreatifitas
Banyak ide di kepala saya yang berat untuk dikeluarkan. mungkin karna saya adalah tipe pemberi ide bukan pelaksana...
Tapi di kokotu semangat untuk berbuat sesuatu sangat tinggi..saya merasa pendidikan dan kemampuan yang saya miliki sungguh sangat disayangkan apabila tidak saya bagi dengan masyarakat yang memerlukan.
Saya sangat menyukai anak anak,karna mereka sangat ceria,pikiran mereka belum terkukung oleh dogma dogma yang dapat membatasi kreatifitas mereka dan juga untuk dapat membangun bangsa maka anak anak adalah zero point kita dalam melakukan perubahan.
Yang saya lakukan hanyalah memberitahukan 1 anak untuk belajar di pondok kami,maka puluhan anak dengan antusias mengucapkan salam dengan membawa buku dan pena mereka...saya sungguh gembira melihat antusias mereka untuk belajar...Ameh ima...kitorang iko belajar e...
anak anak mulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 SD duduk dengan rapih di ruangan tengah pondok kami.
saya mulai pelajaran kami dengan matematika dan saya sunguh terkejut ternyata perkalian dua pun mereka tidak hapal...kelas 1 sampai dengan kelas 6 SD.....masya Allah apa yang terjadi..
saya mencoba untuk mata pelajaran yang lain..saya mulai dengan yang termudah..saya tanyakan dengan keras karna saya meyakini mereka akan menjawab dengan sam kerasnya..SIAPAKAH NAMA PRESIDEN INDONESIA......
semua terdiam..sunyi tidak ada yang bisa menjawab.......
Wahai bangsaku di negara manakah anak anak ini tinggal....?
Kokotu Sudah Setengah Merdeka
Akhirnya Kokotu sudah setengah Merdeka...Hore...
Akhirnya Dering Telp berbunyi di Kokotu...
Akhirnya Saya dan masyarakat lain tidak perlu lagi menerjang ombak kepulau lain untuk mendapat sedikit berita dari seberang.....
Akhirnya kami semua bersyukur walaupun listrik belum menjangkau kokotu tapi jaringan telp sudah masuk lebih dulu...
Dengan melihat wajah wajah ceria masyarkat kokotu ketika dering pertama berbunyi di HP mereka maka Terbayarkan sudah perjuangan kami 1 tahun lebih untuk masuk dalam daftar desa penerima bantuan Tower Mini Telkomsel.
Saya ingat kembali perjuangan kami dari Jakarta untuk mengangkut sejumlah Tower untuk beberapa Desa di Maluku Utara termasuk desa Kokotu,ombak dan semua permasalahan di lapangan termasuk perijinan dan berbagai hal tidak menghambat kami untuk terus berjuang agar desa desa tertinggal di maluku utara menjadi desa setengah merdeka bagi yang belum merdeka.
Antusias warga kokotu sungguh luar biasa,dari anak anak,ibu ibu semua membantu dengan gembira pemasangan tower di desa mereka.
Akhirnya sayalah yang paling gembira dari semuanya,karna akhirnya pekerjaan saya di Jakarta dapat saya lakukan di Kokotu....dalam waktu dekat harapan saya internet sudah bisa kami akses disana..Insya Allah..
Terima kasih Telkomsel ..Terima kasih Indo Pratama Telegobal...Pa Billy,semua staf Teknisi Adhe,Doel,Rancung...you are the best.
Jumat, 25 April 2014
Kokotu belum merdeka
Ternyata betul kata orang bahwa kalau listrik dan signal telphone tidak ada maka itu artinya kita belum merdeka.
Bayangkan saja di jaman secanggih ini dan daerah dengan kekayaan yang begitu besar masih ada saja daerah yang belum diterangi listrik.
Siang hari saya masih melihat birunya laut dan mencium samar samar bau khas dedaunan pohon pohon sekitar.
Senja adalah yang terindah merahnya langit bergabung dengan birunya laut sungguh indah yang tidak saya dapatkan di Jakarta.
Ketika malam tiba cahaya terang hanya terlihat di rumah rumah yang memiiki genset,yang tidak memiliki hanya bertahan dengan lampu minyak yang apabila keesokan paginya meninggalkan warna hitam di dalam hidung.
Biasanya cahaya lampu hanya bertahan sampai jam 9 malam,setelah itu hanya kegelapan malam yang terlihat. Saat saat seperti inilah ingatan akan Jakarta dan gemerlapnya melekat dipikiran saya. Apa yang saya lakukan disini.
Bayangkan saja di jaman secanggih ini dan daerah dengan kekayaan yang begitu besar masih ada saja daerah yang belum diterangi listrik.
Siang hari saya masih melihat birunya laut dan mencium samar samar bau khas dedaunan pohon pohon sekitar.
Senja adalah yang terindah merahnya langit bergabung dengan birunya laut sungguh indah yang tidak saya dapatkan di Jakarta.
Ketika malam tiba cahaya terang hanya terlihat di rumah rumah yang memiiki genset,yang tidak memiliki hanya bertahan dengan lampu minyak yang apabila keesokan paginya meninggalkan warna hitam di dalam hidung.
Biasanya cahaya lampu hanya bertahan sampai jam 9 malam,setelah itu hanya kegelapan malam yang terlihat. Saat saat seperti inilah ingatan akan Jakarta dan gemerlapnya melekat dipikiran saya. Apa yang saya lakukan disini.
impian dan harapan
Kokotu adalah Desa kecil di salah satu kepulauan di Bacan Halmahera Selatan.
Desa ini hanyalah salah satu desa tertinggal yang ada di Maluku Utara,desa kecil dengan jumlah penduduk tidak lebih dari 400 jiwa.
Karena impianlah maka langkah kaki saya tiba di desa ini.
Kami mempunyai impian untuk meningkatkan kembali masa masa jaya kehebatan kepulauan di maluku dengan rempah rempahnya.
Pala dan Cengkeh di Maluku Utara adalah salah satu terbaik di dunia dan itu merupakan kekayaan yang tak ternilai yang sayangnya tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah daerah.
Kokotu merupakan salah satu desa yang kondisi tanahnya sangat cocok untuk jenis tanaman ini,maka langkah kaki kami berhenti disini untuk mencoba menapakkan harapan harapan menjayakan kembali masa masa keemasan Maluku Utara.
Langganan:
Komentar (Atom)




