Kokotu

Kokotu
pondok kokotu

Jumat, 25 April 2014

Kokotu belum merdeka

Ternyata betul kata orang bahwa kalau listrik dan signal telphone tidak ada maka itu artinya kita belum merdeka.

Bayangkan saja di jaman secanggih ini dan daerah dengan kekayaan yang begitu besar masih ada saja daerah yang belum diterangi listrik.

Siang hari saya masih melihat birunya laut dan mencium samar samar bau khas dedaunan pohon pohon sekitar.

Senja adalah yang terindah merahnya langit bergabung dengan birunya laut sungguh indah yang tidak saya dapatkan di Jakarta.

Ketika malam tiba cahaya terang hanya terlihat di rumah rumah yang memiiki genset,yang tidak memiliki hanya bertahan dengan lampu minyak yang apabila keesokan paginya meninggalkan warna hitam di dalam hidung.

Biasanya cahaya lampu hanya bertahan sampai jam 9 malam,setelah itu hanya kegelapan malam yang terlihat. Saat saat seperti inilah ingatan akan Jakarta dan gemerlapnya melekat dipikiran saya. Apa yang saya lakukan disini.

 





 

impian dan harapan

Kokotu adalah Desa kecil di salah satu kepulauan di Bacan Halmahera Selatan.

Desa ini hanyalah salah satu desa tertinggal yang ada di Maluku Utara,desa kecil dengan jumlah penduduk tidak lebih dari 400 jiwa.

Karena impianlah maka langkah kaki saya tiba di desa ini.

Kami mempunyai impian untuk meningkatkan kembali masa masa jaya kehebatan kepulauan di maluku dengan rempah rempahnya.

Pala dan Cengkeh di Maluku Utara adalah salah satu terbaik di dunia dan itu merupakan kekayaan yang tak ternilai yang sayangnya tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah daerah.

Kokotu merupakan salah satu desa yang kondisi tanahnya sangat cocok untuk jenis tanaman ini,maka langkah kaki kami berhenti disini untuk mencoba menapakkan harapan harapan menjayakan kembali masa masa keemasan Maluku Utara.